Dieng Kota Wisata Khas Wonosobo

Dieng Kota Wisata Khas Wonosobo

Dieng Wonosobo merupakan area yang menyimpan berjuta http://agent88bet.co/ pesona dan menawarkan daya tarik alam yang menakjubkan. Memang, tak melulu kebagusanya panoramanya yang menjadi daya Tarik untuk wisatawan guna jeljah dipegunungan Dieng, tetapi runtutan peristiwa historis dengan peninggalan-peninggalan purbakala yang ditemukan di Dieng pun menjadi pesona yang tak pernah terdapat habisnya guna diperbincangkan.

Tatkala menyibak sekian banyak  hal mengenai Dieng, anda akan mengarungi lorong masa-masa yang begitu panjang,menyaksikan pada untaian peristiwa yang paling rumit, dan dihadapkan pada bentangan eksemplar sejarah yang tak berujung, dimana di dalamnya terjadi sekian banyak  fenomena alam, dinamika politik, sosial, ekonomi, dan kebiasaan yang paling melelahkan. Sebuah perjalanan historis yang pada akhirnya menyusun mentalitas, baik untuk penghuninya maupun masyarakat pada umumnya.

Dari sinilah anda akan menyaksikan bagaimana mata airkemajuan mulai mengalir dan pulang menjadi mata air yang sangay estetis untuk di lihat. Meskipun belum menyeluruh bukti-bukti tertulis dan peninggalan nenek moyang anda yangdapat menyingkap misteri mengenai Dieng, paling tidak saya dan anda bisa memperkirakan dan berimajinasi jauh ke masa lampau, bahwa Dataran Tinggi Dieng adalahsatu area yang memegang peran urgen dalam pertumbuhan sejarah Indonesia.

Dieng Kota Wisata Khas Wonosobo
Dieng Kota Wisata Khas Wonosobo

Para berpengalaman sejarah dan arkeolog tidak sedikit yang berasumsi bahwa Dataran Tinggi Dieng sudah dijelajahi olehinsan semenjak 2000 tahun kemudian atau bahkan lebih. Dimungkinkan bertepatan dengan migrasi besar-besaran orang-orang jaman dul tidak sedikit yang ke tanah Jawa.

Peristiwa itu disimbolkan dalam suatu mitos yang menceritakan pemindahan kahyangan semua Dewa dari Gunung Meru di Jambudwipa (Himalaya) ke Dieng. Inilah mula mula nama Dieng muncul, dalam sebuah kisah mistis yang mencerminkan Batara Guru, dikenal pun dengan sebutan Sang Hyang Jagadnata, yang diidentifikasi sebagai seorang brahmana atau penguasa di wilayah Jambudwipa, mengalihkan kahyangan semua Dewa ke Dieng. Dan sejak ketika itu, sebagaimana ungkapan Dennys Lombard dalam karyanya yang berjudul NUSA JAWA, Dieng diputuskan sebagai Pingkalingganing Buwana.

nama Dieng memang berasal dari dua kata dalam bahasa Sanskerta, yakni Ardhi yang berarti Gunung, dan Hyang yang berarti Dewa. Tak mengherankan andai Dieng dikenal pun dengan sebutan Negeri Para Dewa.

Terlepas dari kebenaran mitos tersebut, Dieng tetap menjadi satu area eksklusif. Jika kita menyaksikan peta pulau Jawa, dan unik garis diagonal dari ujung barat di sisi utarasampai ujung unsur timur di sisi unsur selatan Pulau Jawa, maka anda akan menyaksikan bahwa Dataran Tinggi Dieng tepat sedang di tengah-tengahnya. Bisa dibayangkan,ketelitian perhitungan yang luar biasa, tanpa teknologi secanggih ketika ini, ribuan tahun silam sudah dapat menilai suatu titik tempat yang strategis guna menyebarkan peradaban.

Tentu saja urusan ini semakin mempertegas alangkah hebat nyaketerampilan leluhur anda dalam memilih Dieng sebagai Pingkalingganing Buwana sekaligus Kahyangan Para Dewa. Artinya, Dataran Tinggi Dieng menjadi gunung yang disucikan atau ditasbihkan kesuciannya oleh semua Dewa semenjak ribuan tahun silam. Inilah di antara alasan, kenapa padawaktu mendatang Dieng bakal menjadi area yang selalu dikejar oleh tidak sedikit orang.

Migrasi besar-besaran bangsa Keling, diperkirakan dilaksanakan dengan perencanaan yang matang sekitar bertahun-tahun, diakibatkan karena sejumlah hal, laksana serbuan semua pengembara Hun dari padang rumput Eurasia serta tekanan dan pengaruh Helenisasi dari Yunani, pada masa pengelanaan Alexander The Great.

Informasi lain, laksana Kitab Parama yoga karya Pujangga R. Ng. Ranggawarsita, menceritakan bahwa kepindahan Sang Hyang Jagadnata (Syiwa) ke Tanah Jawa sehubungan dengan konsep kenabian Isa.

Salah satu keturunan Sang Hyang Jagadnata ialah Ajisaka, seorang figur yang mengenalkan Aksara Jawa dan tertib sosial untuk pribumi. Dalam Serat Niti Sastra Kawi, Serat Paramayoga, dan Serat Pustaka Raja Purwa, dimana ketiga seratitu disesuaikan dengan Serat Juz Al Gubet dan Serat Miladuniren yang beredar di Turki, ada informasi yangmelafalkan bahwa kesatu-tama Ajisaka datang ke Tanah Jawa, ia bertapa terlebih dahulu di Pegunungan Dieng yang sudah ditasbihkan kesuciannya oleh Sang Hyang Jagadnata sebagai Pingkalingganing Buwana.

Kompleks candi-candi di Dieng di bina pada abad ke 7-8 Masehi, pada masa pemerintahan Kerajaan Kalingga, dengan Ratu yang paling fenomenal dalam sejarah kita, yaitu Ratu Sima. Harus dinyatakan bahwa perumahan percandian Dieng adalahbukti kehormatan Wangsa Jawa pada masa-masa itu, yang lantas disusul timbulnya Dinasti Sanjaya dan Syailendra yang berkuasa di Jawa sejumlah abad kemudian.

Demikianlah ulasan yang saya berikan kepada kalian semua semoga wawasan anda menjadi tau setelah baca artikel ini,Terimakasih

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *